Blogroll

Kemukjizatan Al-Qur’an dalam Perspektif (kognitif) M. Quraish Shihab


Kemukjizatan Al-Quran dalam Perspektif (kognitif) M. Quraish Shihab


Disusun Oleh:
Ahmad (1301421458)
 













FAKULTAS  USHULUDDIN DAN HUMANIORA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ANTASARI
BANJARMASIN
2017

I.          PENDAHULUAN
Setiap tanggal 17 Ramadhan, kita kaum muslimin dimana pun berada teringat suatu peristiwa penting yang terjadi pada 14 abad silam, yaitu turunnya wahyu yang pertama kali kepada Nabi Muhammad Saw sewaktu beliau berada di dalam Goa Hiro’ Jabal Nur. Turunnya wahyu yang pertama ini merupakan bai’at, pelantikan, pengangkatan beliau sebagai seorang nabi yang di utus oleh Allah Swt untuk disampaikan kepada segenap manusia, sebagai pelita kebenaran kearah jalan yang lurus dan kebahagiaan hidup lahir batin. Di dalam Al-Qur’an Allah Swt berfirman (Q.S. al-Baqarah/2: 185).[1] Maka dari itu Al-Qur’an adalah kitab suci yang diwahyukan Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw dengan perantara Malaikat Jibril sebagai petunjuk dan pedoman bagi manusia untuk mencapai kebahagiaan dunia akhirat.[2]
Al-Qur’an yang diyakini oleh umat Islam sebagai Firman Allah Swt, harus dapat membuktikan diri sebagai wahyu dari Allah Swt, bukan buatan Nabi Muhammad Saw, sebagaimana yang dituduhkan oleh orang-orang kafir Qurays. Hanya dengan kekuatannya sendiri, Al-Quran akan mampu mengatasi dan mengalahkan orang-orang yang akan menandinginya, bahkan akan mampu mempertahankan keasliannya sepanjang zaman hingga hari Kiamat.
Pembuktian ini sangat penting agar manusia yang meyakini kebenaran Al-Qur’an, akan semakin mantap imannya dan tidak meragukan sedikit pun kebenaran Al-Qur’an. Bagi yang meragukan kebenaran Al-Qur’an, tentu akan berusaha menantangnya dengan berbagai cara dan usaha. Namun demikian, dengan kemukjizatan Al-Qur’an, usaha apapun yang dilakukan oleh orang-orang yang meragukan kebenarannya, akan berakhir dengan kegagalan.
Apabila dikatakan bahwa Al-Qur’an memiliki kemukjizatan atau Al-Qur’an itu sendiri adalah mukjizat. Sebagai kitab suci, pernyataan-pernyataan Al-Qur’an sangat menakjubkan karena pernyataan-pernyataannya ada yang di luar jangkauan pikiran manusia.
Al-Qur’an sebagai pegangan hidup umat Islam, tidak berlaku untuk satu zaman tertentu saja, melainkan berlaku untuk sepanjang zaman. Inilah antara lain kemukjizatan Al-Qur’an yang selalu dapat dipertahankan keasliannya dan kesuaiannya dengan perkembangan zaman. Oleh karena itu, jika tidak mampu menunjukkan kemukjizatannya, pada akhirnya Al-Qur’an akan ditinggalkan oleh penganutnya.
Demikian pulalah, Salah satu objek yang begitu menarik dalam kajian ‘Ulûm Al-Qur’ân adalah mengenai perbincangan mukjizat Al-Qur’an, para ilmuan Islam, baik ilmuan klasik maupun ilmuan Islam modern, telah banyak berbicara tentang kemukjizatan Al-Qur’an yang mana demikian adalah benar bahwa kekuasaan Allah Swt itu diatas segala-segalanya.[3] Di antara mereka, ada berbicara kemukjizatan Al-Qur’an dari segi kebahasaan seperti gaya bahasa Al-Qur’an, maupun segi keilmiahan Al-Qur’an.
Tanpa bermaksud mengabaikan berbagai segi kemukjizatan Al-Qur’an yang begitu banyak variasi, sesuai dengan ruang yang tersedia bagi tulisan ini, penulis hanya mengkaji sedikit, di antaranya yaitu mukjizat menurut para ‘ulama, pengertian mukjizat Al-Qur’an dan mukjizat menurut M. Quraish Shihab.
II.       PEMBAHASAN
A.    Biografi Prof. Dr. H. Muhammad Quraish Shihab, M.A.

Prof. Dr. H. Muhammad Quraish Shihab, M.A. lahir di Rappang, Sulawesi Selatan, pada 16 Februari 1944.[4] Pendidikan dasarnya diselesaikan di Ujungpandang, kemudian melanjutkan pendidikan menengahnya di Malang sambil “nyantri” di Pondok Pesantren Darul-Hadis al-Faqihiyyah. Pada tahun 1958, ia berangkat ke Kairo, Mesir, atas bantuan beasiswa dari Pemerintah Daerah Sulawesi. Ia diterima di kelas II Tsanawiyah Al-Azhar. Sembilan tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1967, ia meraih gelar Lc (S-1) pada Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir Hadis Universitas al-Azhar. Kemudian ia melanjutkan pendidikannya di fakultas yang sama, dan pada tahun 1969 ia meraih gelar MA untuk spesialisasi bidang Tafsir Al-Quran dengan judul tesis al-I’jâz al-Tasyrî’iy li al-Qur’ân al-Karîm.
Kemudian pada tahun 1980, M. Quraish Shihab melanjutkan pendidikannya di almamaternya yang lama, Universitas al-Azhar. Pada tahun 1982, dengan disertasi berjudul Nizm al-Durar li al-Biqâ’iy, Tahqîq wa Dirâsah, ia berhasil meraih gelar doktor dalam ilmu-ilmu Al-Qur’an dengan yudisium Summa Cum Laude disertai penghargaan tingkat I (mumtâz ma’a martabât al-syaraf al-awlâ). Ia menjadi orang pertama di Asia Tenggara yang meraih gelar doktor dalam ilmu-ilmu Al-Qur’an di Universitas al-Azhar.[5]
Pengabdiannya di bidang pendidikan mengantarkannya menjadi Rektor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada 1992-1998. Kiprahnya tak terbatas di bidang akademis. Beliau juga menjabat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (Pusat), 1985-1998; anggota MPR-RI 1982-1987 dan 1987-2002; dan pada 1998, beliau juga dipercaya menjadi Menteri Agama RI. Beliau juga dikenal sebagai penulis yang sangat produktif. Lebih dari 20 buku telah lahir dari tangannya karya-karya beliau dikenal di berbagai kalangan khususnya dikalangan masyarakat akademis. Di antara karangan beliau yang paling legendaris adalah “Membumikan” Al-Qur’an (Mizan, 1994), Lentera Hati (Mizan, 1994), Wawasan Al-Qur’an (Mizan, 1996), dan Tafsir Al-Mishbah (15 jilid, Lentera Hati, 2003). Beliau juga sering tampil di berbagai media untuk memberikan siraman ruhani dan intelektual. Aktivitas beliau sekarang adalah seorang Dosen (Guru Besar) Pascasarjana Universitas  Islam Negeri (UIN) Jakarta dan Direktur Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ) Jakarta.[6]
A.    Mukjizat Menurut Para ‘Ulama.
Banyak para ulama mendefinisikan dari kata mukjizat diantaranya ialah:
Menurut  Jalâl ad-Dîn As-Suyûthiy, dalam kitabnya yaitu al-Itqân fi’Ulûm al-Qur’ân, mukjizat ialah “suatu kejadian yang keluar dari kebiasaan, disertai dengan unsur tantangan, dan tidak akan dapat ditandingi”.[7]
Ada sedikit perbedaan dalam mengartikan kata mukjizat, dari ‘Ali Ibn Muhammad as-Syarîf aj-Jurjânî beliau berpendapat bahwa mukjizat ialah
suatu kejadian atau peristiwa yang keluar dari adat kebiasaan yang menunjukkan kepada kebaikan dan keberuntungan disertai ajakan atau dakwah para nabi yang bertujuan menampakkan kebenaran orang yang mengaku bahwa ia adalah utusan Allah Swt. [8]
Maka, penjelasan dari kedua pendapat ‘ulama diatas ialah mukjizat berartikan sesuatu yang keluar dari kebiasaan yang tidak ditemukan kecuali kepada Para Rasul-rasul Allah Swt dan disertai juga dengan tahaddi (menentang) hingga tidak ada seorang pun yang dapat menandinginya[9] Kata mukjizat juga mempunyai arti melemahkan atau mengalahkan orang lain agar percaya bahwa mukjizat itu dari Allah Swt yang dibawa oleh seorang rasul.[10]
Kita lihat kembali kata mukjizat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ialah kejadian, peristiwa ajaib yang menyimpang dari hukum alam.[11] Pengertian ini berbeda dalam istilah agama Islam.
Kata mukjizat berasal dari bahasa Arab yang akar katanya yaitu  أَعْجَزَ (a’jaza)[12] Dalam kamus munawwir tertulis bahwa kata أَعْجَزَ (a’jaza) terambil dari kata bahasa Arab yang madhi mudharinya yaitu mujarrad dari عَجَزَ-يَعْجِزُ-عَجْزًا  yang artinya “tidak mampu, tidak kuasa atau tidak dapat”, lalu diqiyâskan (analogikan) ke madhi mudharinya yang mazîd maka menjadi أَعْجَزَ-يُعْجِزُ-إِعْجَازاً yang artinya “menjadikan lemah atau menjadikan tidak mampu”.[13] Adapun orang yang melakukan mukjizat (fâ’il atau Subjek) yang melemahkan dinamai mu’jiz dan dalam mukjizat itu dapat melemahkan pihak lain sehinggal mampu membungkam lawan maka dinamai   معجزة(mu’jizat). Tambahan (ة)  ta’ marbûthah pada akhir kata itu mengandung makna mubâlaghah (superlatif).[14] Banyak para ulama mendefinisikan tentang mukjizat tapi pada dasarnya semua itu tetap pada arti bahwa mukjizat ialah sesuatu yang sangat luar biasa yang hanya diberi kepada para rasul sebagai suatu bukti kenabiannya yang ditantangkan kepada orang yang ragu, hingga mereka yang ragu akan kemukjizatan itu tidak mampu untuk menandinginya. Mukjizat juga sebuah bukti kebenaran yang dianugrahkan kepada para rasul oleh Allah Swt.
1. Unsur-Unsur Mukjizat.
M. Quraish Shihab berpendapat bahwa pada mukjizat itu terdapat beberapa unsur penting:
1. Suatu peristiwa yang amat luar biasa
Misalnya sebuah peristiwa yang menakjubkan dalam keseharian tidak dinamai mukjizat karena ia hanya merupakan sesuatu yang biasa. Lain halnya yang di maksud dengan luar biasa ialah sesuatu yang di luar jangkauan, sesuatu yang lain dari sebuah hukum kausalitas atau hukum sebab akibat yang diketahui secara umum hukum-hukumnya. Dengan demikian itu, hipnotis, sulap atau sesuatu yang ajaib bukan mukjizat karna semua itu bisa dipelajari dan itu bisa didapatkan dengan belajar, maka itu tidak bisa dikatakan sesuatu yang luar biasa tadi.
2. Terjadi kepada seseorang yang mengklaim bahwa dirinya adalah seorang nabi
Tidak mustahil bila mana sesuatu yang luar biasa terjadi kepada siapa pun. Namun, apabila bukan dari seseorang yang mengaku nabi, ia tidak dinamai mukjizat. Atau sesuatu yang luar biasa itu terjadi kepada seseorang yang akan menjadi nabi, ini juga tidak bisa dinamakan sebagai mukjizat, tapi irhâsh. Bisa juga sesuatu yang luar biasa itu terjadi kepada sesorang yang taat dan dicintai Allah Swt, ini juga bukan mukjizat tapi ini ialah karâmah. Bahkan tidak mustahil pula sesuatu yang luar biasa itu terjadi kepada orang yang durhaka kepada-Nya maka yang terakhir ini sudah tentu jelas bukan mukjizat tapi ini ialah ihânah (penghinaan) atau yang disebut dengan istidrâj (“rangsangan” untuk lebih durhaka).
Bertitik tolak pada keyakinan umat Islam bahwa Nabi Muhammad Saw adalah khâtam an-Annabiyyîn (penutup para nabi) maka dari itu tidak mungkin lagi terjadi mukjizat setelah beliau wafat, walaupun ini bukan berarti bahwa suatu keluarbiasaan tidak dapat terjadi lagi.
3. Mengandung tantangan terhadap yang meragukaan kenabiaan.
Tantangan ini harus berbarengan dengan pengakuannya sebagai seorang nabi, bukan sebelum atau sesudahnya. Di sisi lain, tantanang tersebut harus pula merupakan sesuatu yang sejalan dengan ucapan sang nabi. Kalau misalnya ia berkata, “ini mempunyai keluarbiasaan” tapi ketika itu memang mempuyai kebiasaan, dikatakan bahwa “sang penantang berbohong”, maka ini bukanlah suatu mukjizat, melainkan ihânah atau istidrâj.
4. Tantangan tersebut tidak mampu atau gagal dilayani.
Apabila yang ditantang dapat melakukan hal yang sama dengan keluarbiasaan yang menantang maka pengakuan keluarbiasaan sang penantang tidaklah terbukti. Kandungan tantangan disini harus benar-benar dipahami oleh yang ditantang. Bahkan untuk lebih membuktikan kegagalan mereka, aspek kemukjizatan masing-masing nabi adalah hal-hal yang sesuai dengan bidang keahlian umatnya.
Misalnya mukjizat Nabi Musa a.s., yaitu berubahnya sebuah tongkat menjadi seekor ular yang dihadapkan kepada Fir’aun dan pengikutnya yang mana pada masa itu telah berkembang pesat ilmu sihir, mukjizat yang begitu jelas itu membungkam para ahli sihir yang ditantang oleh Nabi Musa a.s. sehingga mereka lemah tak kuasa dan mengakui kekalahan mereka bahkan mereka beriman (Q.S. al-A’râf/7: 103-126), walaupun Fir’aun mengancam dengan aneka ancaman (Q.S. Thâhâ/20: 63-76)[15]
Contoh lain, Nabi Shaleh a.s. yang menghadapi kaum Tsamud yang amat pandai melukis dan memahat, hingga relief-relief indah hampir menyerupai sesuatu yang nyata, bernyawa, menghiasi gunung-gunung tempat tinggal mereka. (Q.S. al-A’râf/7: 74 dan Q.S. al-Fajr/89: 9). Kepada mereka Nabi Shaleh diberikan mukjizat yang sesuai dengan keahlian mereka, yakni keluarnya seekor unta yang benar-benar hidup dari batu karang yang mereka lihat makan dan minum (Q.S. al-A’râf/7: 73 dan Q.S. asy-Syu’arâ/26: 155-156). Bahkan mereka meminum susu dari susu unta itu. Ketika itu, maka relief-relief itu tidak lagi berarti sama sekali dibanding dengan mukjizat Nabi Shaleh a.s. tapi mereka tetap enggan untuk mempercayainya sehingga mereka tidak dapat jalan lain, melainkaan mereka menyembelih unta tersebut, hingga Tuhan pun menjatuhkan palu godam terhadap mereka (Q.S. asy-Syams/91: 13-15).[16]
B.     Pengertian Mukjizat Al-Qur’an.
Mukjizat Al-Qur’an (I’jâz al-Qur’ân) adalah penetapan Al-Qur’an akan ketidakmampuan atau melemahkan makhluk memenuhi tantangan Al-Qur’an.[17] Kata mukjizat yang berarti ketidakmampuan itu sejalan dengan Firman Allah Swt yang berbunyi:[18]
...أَجَزْتُ اَنْ أَكُوْنَ مِثْلَ هَذَا الغُرَابِ فَأُوَارِيَ سَوْأَةَ أَخِيْ...الأية  (المائدة: 31).
Artinya:
31. …mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini.
 Tapi dalam konteks pengertian itu bukan sasaran utama I’jâz al-Qur’ân karena yang dinginkan ialah menampakkan kebenaran Al-Qur’an dan kebenaran Nabi Muhammad Saw sebagai utusan Allah Swt.
Adapun tentang tujuan dan fungsi mukjizat ialah sebagai bukti kebenaran para nabi, keluarbiasaan yang terjadi pada mereka. Secara bahasa mukjizat memang berarti melemahkan tapi dari segi agama ia sama sekali tidak dimaksudkan melemahkan atau membuktikan ketidakmampuan yang ditantang melainkan untuk menunjukkan kebenaran Al-Qur’an melalui hamba-hamba pilihan-Nya yaitu para rasul-rasul-Nya sebagai utusan-Nya.[19] M. Quraish Shihab berpendapat mukjizat itu mengandung dua konsekuensi yaitu:
1.                Bagi beriman (percaya) dengan nabi, maka ia tidak berhajat lagi kepada mukjizat. Mukjizat yang dilihat atau yang dialaminya hanya berfungsi memperkuat keimanan, serta menambah keyakinannya akan kekuasaan Allah Swt.
2.                Para nabi sejak Nabi Adam a.s. hingga Isa a.s diutus pada masa dan kaum tertentu. Tantangan yang mereka kemukakan pasti tidak mampu dilakukan oleh umatnya. Namun, apakah ini berarti peristiwa luar biasa yang terjadi melalui mereka itu tidak dapat dilakukan oleh selain umat mereka pada generasi sesudah generasi mereka? Jika tujuan mukjizat hanya untuk meyakinkan umat setiap nabi, boleh jadi umat yang lain dapat melakukannya. Kemungkinan ini lebih terbuka bagi mereka yang berpendapat bahwa mukjizat pada hakikatnya berada dalam jangkauan hukum-hukum (Allah yang berlaku) di alam. Namun, ketika hal itu terjadi, hukum-hukum tersebut belum lagi diketahui oleh masyarakat nabi yang bersangkutan.[20]

C.    Mukjizatan Al-Qur’an Menurut M. Quraish Shihab.
Al-Qur’an adalah kalâm Allah Swt yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Saw dengan melalui perantara malaikat-Nya yaitu Malaikat Jibril a.s., yang telah disampaikan kepada kita umat-Nya dengan jalan mutawatir, yang dihukum kafir orang yang mengingkarinya.[21] Perlu kita ketahui bersama, kemukjizatan itu menembus semua dimensi sebagai mana yang dikatakan oleh seorang pakar Al-Qur’an dari Turki Badî’ Zaman Sa’îd an-Nurs berpendapat bahwa:
ada ribuan perhatian pakar-pakar dari berbagai bidang terhadap Al-Qur’an baik yang mempelajari dan mengupas kitab ini dari berbagai dimensi keilmuaan, dan keunggulan Al-Qur’an terhadap kitab samawi lain, terutama keorisinalitasannya.[22]
1.      Al-Qur’an dari Aspek Kebahasaan.
Bahasa Al-Qur’an itu mempunyai kemukjizatan tersendiri baik gaya bahasanya, susunan kalimatnya, bahkan keindahan uslubnya.
Al-Imâm Fakhr ad-Dîn berkata, “Sisi kemukjizatan Al-Qur’an ada pada nilai kefasihannya, keindahan uslubnya, dan keselamatannya dari semua macam cela”.[23]
Menurut M. Quraish Shihab ada beberapa ada susunan kata dan kalimat dalam Al-Qur’an yang mana itu adalah termasuk kemukjizatan Al-Quran:
1.      Nada dan Langgamnya
Ketika kita mendengar ayat-ayat Al-Qur’an, hal yang pertama kita dengar adalah sebuah nada dan langgamnya yang mempunyai keunikan irama dan ritmenya padahal ia bukan sebuah syair atau puisi itulah salah satu kemukjizatan Al-Qur’an.[24]
Hal ini disebabkan oleh indahnya susunan yang terkandung dalam baris setiap perkatanya, keteraturan bunyinya yang indah melalui nada huruf-hurufnya baik pada harakat dan sukunnya, madd dan gunnahnya, fasilah dan maqta’nya sehingga telinga tidak pernah merasa bosan untuk mendengarnya bahkan senantiasa ingin terus mendengarnya. Dan juga yang sedemikian banyak dan panjang, ke-fasâhah-annya senantiasa indah dan serasi[25] sesuai dengan yang di gambarkan Allah Swt (Q.S. az-Zumar/39: 23) yang berbunyi:
اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ {23} (الزمر: 23).
Artinya:
23. Allah telah menurunkan Perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. dan Barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun.
Bacalah misalnya Surah Q.S. an-Nâzi’ât/79: 1-14.
 وَالنَّازِعَاتِ غَرْقًا {1} وَالنَّاشِطَا تِنَشْطًا {2} وَالسَّابِحَاتِ سَبْحًا {3} فَالسَّابِقَاتِ سَبْقًا {4}  فَالْمُدَبِّرَاتِ أَمْرًا {5}  (النازعات:1-5).
Ketika pendengaran mulai terbiasa dengan nada dan langgam ini, Al-Qur’an mengubah nada dan langgamnya. Dengan lanjutan ayatnya sebagai berikut:
يَوْمَ تَرْجُفُ الرَّاجِفَةُ {6} تَتْبَعُهَا الرَّادِفَةُ {7} قُلُوبٌ يَوْمَئِذٍ وَاجِفَةٌ {8} أَبْصَارُهَا خَاشِعَةٌ {9} يَقُولُونَ أَئِنَّا لَمَرْدُودُونَ فِي الْحَافِرَةِ {10} أَئِذَا كُنَّا عِظَامًا نَخِرَةً {11} قَالُوا تِلْكَ إِذًا كَرَّةٌ خَاسِرَةٌ {12}  فَإِنَّمَا هِيَ زَجْرَةٌ وَاحِدَةٌ {13} فَإِذَا هُمْ بِالسَّاهِرَةِ {14} (النازعات:6-14).
Pengubahan nada itu hingga berakhirnya surah, bahkan ada sebuah pendapat bahwa orang yang mendengar langgam dan nada ayat-ayat Al-Qur’an akan menyangkut dalam psikologis seseorang.[26]
2.      Al-Qur’an dari Aspek Ilmu Pengetahuan.
Banyak sekali ilmu pengetahuan yang ditemukan dalam kitab suci Al-Qur’an termasuk ilmu pengetahuan yang bersifat ilmiah. Perlu kita ketahui bersama bahwa Al-Qur’an bukan suatu kitab ilmiah sebagaimana halnya kitab-kitab ilmiah yang dikenal selama ini. Bukti dari pertanyaan tersebut ialah ada sebuah pertanyaan yang diajukan oleh sahabat tentang keadaan bulan dan petanyaan sahabat itu telah di cantumkan dalam Al-Qur’an (Q.S al-Baqarah/2: 189) yang berbunyi:
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ...الأيه (البقرة: 189).
Artinya:
189. Mereka bertanya kepadamu tentang bulan.
Menurut ayat itu, para sahabat bertanya mengapa bulan (sabit) terlihat setiap malam selalu membesar hingga purnama, kemudian setiap malam setelah itu mengecil hingga menghilang dari pandangan mata.
Pertanyaan tersebut tidak dijawab langsung dengan jawaban ilmiah layaknya jawaban para astronom, tetapi jawabannya justru diarahkan kepada upaya memahami dan memikirkan hikmah di balik itu.[27] Maka Al-Qur’an menjawab (Q.S. al-Baqarah/2 : 189).
قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ...الأيه (البقرة: 189).
Artinya:
189. Katakanlah, “Yang demikian itu tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji”.
Sebagaimana yang dikemukakan oleh Mannâ’ Khalîl al-Qattân bahwa:
kemukjizatan ilmiah Al-Qur’an bukanlah terletak pada pencakupannya akan teori-teori ilmiah yang selalu baru dan berubah serta merupakan hasil usaha manusia dalam penelitian dan pengamatan tetapi ia terletak pada dorongannya untuk berpikir dan menggunakan akal. Al-Qur’an mendorong manusia agar memperhatikan dan memikirkan alam.[28]
Pendapat itu diperkuat lagi oleh Muhammad ‘Abduh ‘Adzîm Al-Zarqâniy bahwa beliau mengatakan Kemukjizatan Al-Qur’an itu menuntut manusia untuk menggunakan akal dan membuka mata untuk melihat alam serta segala isinya baik langit maupun bumi, dataran maupun lautan, flora maupun fauna dan isi yang emplisit maupun yang ekplisit.[29]
Dalam menegaskan kamukjizatan ilmiah Al-Qur’an Allah Swt berfirman (al-‘Ankabût/29: 48-49) sebagai berikut:
وَمَا كُنْتَ تَتْلُو مِنْ قَبْلِهِ مِنْ كِتَابٍ وَلَا تَخُطُّهُ بِيَمِينِكَ إِذًا لَارْتَابَ الْمُبْطِلُونَ {48} بَلْ هُوَ آَيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَمَا يَجْحَدُ بِآَيَاتِنَا إِلَّا الظَّالِمُونَ {49} (العنكبوت:48-49).
Artinya:
48. Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al Qur'an) sesuatu Kitab pun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu; andai kata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari (mu).

49. Sebenarnya, Al Qur'an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu[1156]. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim.
[1156]Maksudnya: ayat-ayat Al-Qur’an itu terpelihara dalam dada dengan dihapal oleh banyak kaum muslimin turun temurun dan dipahami oleh mereka, sehingga tidak ada seorangpun yang dapat mengubahnya.[30]
 Tidaklah heran jika di dalam Al-Qur’an terdapat berbagai petunjuk tersirat maupun tersurat yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan, guna mendukung fungsinya sebagai kitab petunjuk yang maha benar.[31]
Demikian beberapa ayat-ayat yang membicarakan tentang ilmu pengetahuan yang mana pada masa dulu belum diketahui, tapi Al-Qur’an lebih dulu membahasnya, Firman Allah Swt (Q.S. az-Zumar/39: 6) berikut ini:
خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَأَنْزَلَ لَكُمْ مِنَ الْأَنْعَامِ ثَمَانِيَةَ أَزْوَاجٍ يَخْلُقُكُمْ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ خَلْقًا مِنْ بَعْدِ خَلْقٍ فِي ظُلُمَاتٍ ثَلَاثٍ ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَأَنَّى تُصْرَفُونَ {6} (الزمر: 6).
Artinya:
6. Dia menciptakan kamu dari seorang diri kemudian Dia jadikan daripadanya istrinya dan Dia menurunkan untuk kamu delapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak. Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan[1306].  Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan Yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?.
[1306]Tiga kegelapan itu ialah kegelapan dalam perut, kegelapan dalam rahim, dan kegelapan dalam selaput yang menutup anak dalam rahim.[32]
Ayat ini menerangkan kepada kita, bahwa penciptaan manusia itu berlangsung pada tiga kegelapan. Ada sebuah rahasia makna dari tiga kegelapan (zhulumat tsalats) yang dimaksud oleh Al-Qur’an tersebut, sekarang berkat kemajuan teknologi yang begitu pesat dan kecanggihan ilmu kedokteran yang begitu amat canggih dapat diketahui sebagai tiga selaput dalam Rahim ibu, yaitu: chorion, amnius, dan dinding uretus.[33]
Bagaimana mungkin Al-Qur’an dengan ayat-ayat-Nya mampu menembus ruang dan waktu mampu menyamai hasil penelitian ilmiah modern saat ini setelah seribu tahun lebih dari kedatangan beliau? Dan bukankah beliau adalah seorang yang ummiy yang hidup dilingkungan ummiy pula, tak pernah berkaitan dengan ilmu-ilmu alam. Dari mana beliau mendapatkan pengetahuan-pengetahuan itu kalau tidak dari Yang Maha Kuasa dan Maha Tahu. Itulah Wahyu Allah Swt Yang Maha Mengetahui yang disampaikan-Nya kepada hamba pilihan-Nya (Muhammad Saw), yang merupakan mukjizat terbesar Nabi Muhammad Saw. Jika komentar sementara orang yang mengatakan bahwa itu hanya faktor kebetulan saja. Maka baiklah, jika kita menerima bahwa satu kenyataan ilmiah dalam Al-Qur’an tersebut hanya karena faktor kebetulan saja lalu bagaimana halnya dengan ayat-ayat lain yang berbicara tengtang ilmu pengetahuan seperti (Q.S. Yâsin/36: 40) yang berbunyi:
لَا الشَّمْسُ يَنْبَغِي لَهَا أَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ {40}    (يس: 40).
Artinya:
40. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.
Ada sebuah penafsiran yang mengatakan dari ayat tersebut bahwa tidak sepatutnya bagi matahari ia terbit di daerah kekuasaan rembulan karena akan memudarkan sinarnya dan tidak sepatutnya juga bagi malam jika terbit di daerah kekuasaan siang karena akan memudarkan sinarnya pula. Kedua-duanya itu beriringan dan setiap benda langit itu berjalan pada poros-porosnya tidak keluar daripadanya.  Sebagaimana firman AllAh Swt yang berbunyi:
إنا كل شيء خلقناه بقدر
Artinya:
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran”.
Sementara kebenaran dan kevalidannya diakui oleh ilmu modern saat ini. Itulah wahyu Allah Swt Yang Maha Mengetahui lagi Maha Benar apa yang disampaikan-Nya.[34]
III.    KESIMPULAN
Sebagai kesimpulan dari tulisan ini dapat dikemukakan bahwa Al-Qur’an adalah kitab suci yang benar-benar merupakan wahyu dari Allah Swt yang merupakan mukjizat terbesar Nabi Muhammad Saw. Adapaun Mukjizat dapat diartikan sebagai kejadian atau peristiwa ajaib yang sukar untuk dipikirkan oleh kemampuan akal manusia. Sedangkan mukjizat Al-Qur’an dapat diartikan sebagai kemampuan Al-Qur’an melemahkan kekuatan akal manusia untuk menunjukkan kebenaran Al-Qur’an sebagi wahyu dari Allah Swt dan membenarkan bahwa yang membawa itu adalah utusann-Nya yaitu Nabi Muhammad Saw dalam hal tidak mampunya manusia membuat tulisan yang serupa dengannya.
Hal Ini dapat dilihat dari mukjizat Al-Qur’an terhadap orang-orang yang ingin menandinginya baik dari struktur bahasa seperti langgam nadanya maupun dari segi ilmu pengetahuannya.
Adapun beberapa unsur yang menyertai mukjizat:
1.      Hal atau peristiwa yang luar biasa
2.      Terjadi atau dipaparkan oleh seorang yang mengaku nabi
3.      Mengandung tantangan terhadap yang meragukan kenabian
4.      Tantangan tersebut tidak mampu atau gagal dilayani



DAFTAR PUSTAKA
Aj-Jurjânî, ‘Ali Ibn Muhammad asy-Syarîf. Kitâb at-Ta’rîfât. Bayrût: Riyâd ash-Shulh, 1985.
Al-Qattân, Mannâ’ Khalîl. Studi Ilmu-ilmu Qur’an, Cet. ke-15. terj. Mudzakir AS. Bogor: Pustaka Litera AntarNusa, 2012.
Anwar, Rosihan. Ulum Al-Qur’an. Bandung: CV. Pustaka Setia, 2012.
As-Suyûthiy, Jalâl ad-Dîn ‘Abd ar-Rahmân Ibn Abî Bakr. ‘UlumulQur’an II: Studi Al-Qur’an Komprehensif, Cet. ke-1. terj. Tim Editor Indiva. Surakarta: Indiva Pustaka, 2009.
_______. al-Itqân fi’Ulûm al-Qur’ân, Jilid 2. Bayrût: Dâr al-Kutub al-Ilmiyyah, 2010.
Az-Zarqâniy, Muhammad ‘Abduh ‘Adzîm. Manâhil Al-‘Urfan Fi ‘Ulum Al-Qur’an. terj. M. Qadirun Nur dan Ahmad Musyafiq. Jakarta: Gaya Media Pratama, 2002.
Boullata, Issa J. Al-Qur’an Yang menakjubkan: Bacaan Terpilih dalamTafsir Klasik hingga Modern dari seorang Ilmuan Katolik, “Kata Pengantar”. Terj. Bachrum B, Taupik A.D, dan Haris Abd Hakim. Tangerang: Lentera Hati, 2008.
Departemen Agama RI, Al-‘Aliyy Al-Qur’an Dan Terjemahnya, Bandung: CV.  Penerbit Diponegoro, 2005.
Ibrâhîm, Muhammad Ismâ’îl. Sisi Mulia Al-Qur’an. terj. ‘Ali Abû Bakr Basalamah dan Y. M. Asmin. Jakarta: CV. Rajawali, 1986.
Karim, Abdullah. Pengantar Studi Al-Qur’an, Cet. ke-1. Banjarmasin: Kafusari Press, 2011.
Khalifah, Rasyad. Mukjizat Matematika dalam Al-Qur’an. Jakarta: Cendekia Sentra Muslim, 2005.
Munawwir, Ahmad Warson. al-Munawwir Kamus Arab-Indonesia. Surabaya: Pustaka Progressif, 1997.
Nasir, Salihun A. Ilmu Tafsir Al-Qur’an. Surabaya: Al Ikhlas, 1987.
Shiddieqy, M. Hasbi Ash. Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an/Tafsir. Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1994.
Shihab, M. Quraish. “Membumikan” Al-Qur’an: Fungsi Dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat. Edisi ke-2, Cet ke-1. Bandung: PT. Mizan Pustaka, 2013.
_______. Lentera Al-Qur’an: Kisah Dan Hikmah Kehidupan. Edisi ke-2, Cet ke-1. Bandung: PT. Mizan Pustaka, 2013.
_______. Mukjizat Al-Qur’an: Ditinjau dari Aspek Kebahasaan, Isyarat Ilmiah, dan Pembirataan Gaib. Cet ke-2. Bandung: PT. Mizan Pustaka, 2007.
_______. Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Tematik Atas Pelbagai persoalan Umat. Edisi ke-1. Cet ke-1. Bandumg: PT. Mizan Pustaka, 2013.
Tim Pustaka Phoenik. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Cet. ke-5. Jakarta: PT. Media Pustaka Phoenix, 2010.
Umam, Chatibul. “Kemukjizatan Al-Qur’an Dari Segi Uslub Dan Isi”, dalam Khatibul Umam dan Bustami A. Gani, ed. Aspek-aspek Ilmiah Tentang Qur’an. Jakarta: PT. Pustaka Litera AntarNusa, 1994.
Umam, Khatibul dan Bustami A. Gani, ed. Aspek-aspek Ilmiah Tentang Qur’an. Jakarta: PT. Pustaka Litera AntarNusa, 1994.




[1]Salihun A. Nasir, Ilmu Tafsir Al-Qur’an, (Surabaya: Al Ikhlas, 1987), h. 60.
[2]Khatibul Umam dan Bustami A. Gani, ed., Aspek-aspek Ilmiah Tentang Qur’an, (Jakarta: PT. Pustaka Litera AntarNusa, 1994), h. 1.
[3]Rosihan Anwar, Ulum Al-Qur’an, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2012), h. 183.
[4]M. Quraish Shihab, Lentera Al-Qur’an: Kisah Dan Hikmah Kehidupan, (Bandung: PT. Mizan Pustaka, 2013), Edisi ke-2, Cet ke-1, h. 5; M. Quraish Shihab, “Membumikan” Al-Qur’an: Fungsi Dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat, (Bandung: PT. Mizan Pustaka, 2013), Edisi ke-2, Cet ke-1, h. 7.
[6]M. Quraish Shihab, Mukjizat Al-Qur’an: Ditinjau dari Aspek Kebahasaan, Isyarat Ilmiah, dan Pembirataan Gaib, (Bandung: PT. Mizan Pustaka, 2007), Cet ke-2, h. 297; M. Quraish shihab, Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Tematik Atas Pelbagai persoalan Umat, (Bandumg: PT. Mizan Pustaka, 2013), Edisi ke-1, Cet ke-1, h. V.
[7]Jalâl ad-Dîn ‘Abd ar-Rahmân Ibn Abî Bakr as-Suyûthiy, al-Itqân fi’Ulûm al-Qur’ân, Jilid 2, (Bayrût: Dâr al-Kutub al-Ilmiyyah, 2010), h. 482; Anwar, Ulum…, h. 184.
[8]‘Ali Ibn Muhammad asy-Syarîf aj-Jurjânî, Kitâb at-Ta’rîfât, (Bayrût: Riyâd ash-Shulh, 1985), h. 234.
[9]Jalâl ad-Dîn as-Suyûthiy, ‘UlumulQur’an II: Studi Al-Qur’an Komprehensif, terj. Tim Editor Indiva, (Surakarta: Indiva Pustaka, 2009), Cet ke-1, h. 661
[10]Anwar, Ulum..., h. 184; Chatibul Umam, “Kemukjizatan Al-Qur’an Dari Segi Uslub Dan Isi”, dalam Khatibul Umam dan Bustami A. Gani, eds.  Aspek-aspek Ilmiah Tentang Qur’an, (Jakarta: PT. Pustaka Litera AntarNusa, 1994), h. 34.
[11]Tim Pustaka Phoenik, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: PT. Media Pustaka Phoenix, 2010), Cet ke-5, h. 584.
[12]Shihab, Mukjizat Al-Qur’an…, h. 25.
[13]Ahmad Warson Munawwir, al-Munawwir Kamus Arab-Indonesia, (Surabaya: Pustaka Progressif, 1997), h. 896.
[14]Shihab, Mukjizat…, h. 25; Anwar, Ulum…, h. 184
[15]Shihab, Mukjizat…, h. 26-27; Umam, “Kemukjizatan Al-Qur’an…”, dalam Khatibul Umam dan Bustami A. Gani, ed., Aspek-aspek…, h. 34-35.
[16]Shihab, Mukjizat…, h. 27-28.
[17]Abdullah Karim, Pengantar Studi Al-Qur’an, (Banjarmasin: Kafusari Press, 2011), Cet ke-1, h. 131.
[18]Anwar, Ulum…, h. 184.
[19]Issa J. Boullata, Al-Qur’an Yang menakjubkan: Bacaan Terpilih dalam Tafsir Klasik hingga Modern dari seorang Ilmuan Katolik, “Kata Pengantar”, Terj. Bachrum B, Taupik A.D, dan Haris Abd Hakim, (Tangerang: Lentera Hati, 2008), h. v.
[20]Shihab, Mukjizat…, h. 35-36; Karim, Pengantar Studi…, h. 131-132.
[21]M. Hasbi Ash  Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an/Tafsir, (Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1994), h. 3.
[22]Rasyad khalifah, Mukjizat Matematika dalam Al-Qur’an, (Jakarta: Cendekia Sentra Muslim, 2005), h. 18-21.
[23]As-Suyûthiy, terj. Tim Editor Indiva., ‘Ulumul…, h. 669.
[24]Shihab, Mukjizat…, h. 122-123.
[25]Mannâ’ Khalîl al-Qattân, Studi Ilmu-ilmu Qur’an, terj. Mudzakir AS, (Bogor: Pustaka Litera AntarNusa, 2012)_, Cet. ke-15, h. 381-383.
[26]Shihab, Mukjizat…, h. 123-124.
[27]Shihab, Mukjizat…, h. 169.
[28]Al-Qattân, Studi Ilmu-ilmu…, terj. Mudzakir AS, h. 386.
[29]Muhammad ‘Abduh ‘Adzîm az-Zarqâniy, Manâhil Al-‘Urfan Fi ‘Ulum Al-Qur’an, terj. M. Qadirun Nur dan Ahmad Musyafiq, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2002), h. 15-17.
[30]Departemen Agama RI, Al-‘Aliyy Al-Qur’an Dan Terjemahnya, (Bandung: CV.  Penerbit Diponegoro, 2005), h. 321.
[31]Shihab, Mukjizat…, h. 170.
[32]RI, Al-‘Aliyy Al-Qur’an…, h. 366.
[33]Muhammad Ismâ’îl Ibrâhîm, Sisi Mulia Al-Qur’an, terj. ‘Ali Abû Bakr Basalamah dan Y. M. Asmin, (Jakarta: CV. Rajawali, 1986), h. 145.
[34]Ibrâhîm, Sisi Mulia..., terj. ‘Ali Abû Bakr Basalamah dan Y. M. Asmin, h. 108.
close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==