PENDAHULUAN
Pada zaman dahulu, orang Islam diajari
untuk berbuat dan beramal dalam kehidupan ini berlandaskan Tauhid dan juga
diajari untuk berlindung dari berbagai kejahatan, hanya dengan melafalkan 3 surah ini hingga
puluhan bahkan ratusan kali. Mungkin pada zaman dahulu sihir yang ada itu dapat
ditangkal dengan mudah oleh daya dari 3 surah ini. Tapi, pada zaman sekarang?
Sihir modern sudah tidak dapat ditangkal meski bibir kita ndower karena
melafalkan surah ini hingga ribuan kali. Lihatlah bencana yang ditimbulkan oleh
sihir modern yang terjadi di Ambon, Poso dan tempat lain. Untuk menangkal sihir
semacam ini surah-surah dalam al-Qur’an tidak lagi cukup dilafalkan, tetapi
ditelaah dan dikaji maknanya
(penafsiran).
Tafsir adalah penjelasan al-Qur’an, yang mana penafsiran tersebut
untuk membantu memahami Al-Qur’an. Memahami Al-Qur’an bisa melalui terjemahan,
ataupun penafsiran yang dilakukan oleh mufassir. Terjemahan atau penjelasan
sendiri tergolong dalam tafsir. Di Indonesia khususnya, tidak semua masyarakat
Islam dapat memahami ayat al-Quran secara langsung, perlu adanya terjemahan
resmi dan standar, dalam hal ini, telah dilakukan dan distandarkan oleh
Departemen Agama. Jauh dari itu, banyak para pemikir Islama di Indonesia, juga
menafsirkan ayat-ayat Al-quran, seperti HAMKA, Hasbi ash-Shiddiqi, dll.
Dari zaman dahulu sampai sekarang banyak para mufasir Indonesia
yang mencoba untuk menafsirkan al-Qur’an. Salah satunya yaitu Achmad Chojdim
yang bisa dikatakan tafsir mutakhir, yang mencoba untuk menafsirkan tiga surat
terakhir dalam sistematika mushaf Utsmani. Karya beliau tidak hanya tiga surat
tersebut malainkan juga Tafsir Al-fatihah, Membangun Syurga, Rahasia Sepuluh
Malam, dll.
Dalam makalah ini, akan dibahas tentang tiga surat terakhir yaitu
surat Al-Falaq, Al-Ikhlas dan An-Nas. Beliau menyebutkan bahwa karya tersebut
bukanlah sebuah “kitab tafsir”. Beliau menulis karya tersebut untuk menggali
dan menyelami makna yang terkandung sebagai petunjuk manusia, yang mana zaman
semakin berkembang. Maka, ayat al-Qur’an pun dipahami sesuai dengan
perkembangan zamannya.
Tafsir Mutakhir Tiga Surah Terakhir Karya
Achmad Chodjim
A.
Biografi Achmad Chodjim
Achmad Chodjim lahir di Surabaya, 27 Februari 1953. Ia dibesarkan
dalam lingkungan masyarakat tradisional-Islami yang menyenandungkan kitab-kitab
klasik. Ia berwajah sejuk, terbuka dan inklusif. Dalam mempelajari ilmu
pengetahuan agama, ia diasuh oleh paman dan sepupu dari pihak ibu. Ketika SMP
dan SMA, ia pernah nyantri di pondok pesantren Darul Ulum, Jombang dan pondok
modern Darussalam, Gontor. Hal inilah yang membangun semangatnya untuk
menggeluti ilmu-ilmu agama. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan formalnya di
Sekolah Pertanian Menengah Atas Negeri Malang (1974), Sarjana Pertanian
(agronomi) di Institut Pertanian Bogor (1987) dan Magister Manajemen dari
Sekolah Tinggi Manajemen Prasetia Mulya, Jakarta 1996.[1]
Ketika di Malang Chodjim menyempatkan waktu
untuk belajar ilmu-ilmu agama kepada tokoh agama yangada disana saat itu. K.H.
Akhmad Chair, ketua rohani Islam di Korem Angkatan Darat di Malang. Ia belajar
tafsir seminggu sekali. Sedangkan untuk hadis, ia belajar kepada Muhammad Bejo,
Muballig Nasional Muhammadiyah.
Dari kedua tokoh agama tersebut, ia
mendapat pemahaman lebih tentang agama, khususnya tentang tafsir dan hadis.
Kedua guru tersebut juga memperkenalkan kepada Chodjim dan teman-teman
pengajiannya macam-macam kitab klasik Islam baik yang sudah diterjemahkan ke
dalam bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan bahasa Arab untuk dipelajari. Itu
mendorongnya untuk mendalami bahasa Arab sebagai ilmu alat dalam mempelajari
kitab klasik Islam, tapi bukan bahasa Arab sebagai percakapan. Dalam bahasa Arab,
ia juga belajar nahwu, sharaf, mantiq dan sastra.[2]
B.
Karya Intelektual Achmad Chodjim
Ada beberapa karya intelektual Achmad Chodjim, sebagai
berikut:
1. Tafsir
al-Fatihah.
2. Islam
Esoteris: Kemuliaan dan Keindahannya (Jakarta: Gramedia, 2000). Buku ini ditulis bersama
Anand Krisna.
3. Syekh Siti
Jenar: Makna Kematian (Jakarta: Serambi, 2002).
4. Tafsir Surah
al-Falaq: Sembuh Penyakit Batin dengan Surah Subuh (Jakarta: Serambi, 2002).
5. Membangun
Syurga: Bagaimana Hidup Damai di Bumi agar Hidup Damai Pula di Akhrat (Jakarta: Serambi, 2004).
6. Tafsir Surah
an-Nas: Segarkan Jiwa dengan Surah Manusia (Jakarta: Serambi, 2005).
7. Tafsir Surah
al-Ikhlas: Bersihkan Iman dengan Surah Kemurnian (Jakarta: Serambi, 2005).
8. Meaningful
Life (Jakarta:
Hikmah, 2005).
9. Rahasia
Sepuluh Malam (Jakarta: Serambi, 2007).
11. Kekuatan
Takwa.
12. Syekh Siti
Jenar: Makrifat dan Makna Kehidupan.
13. Hidup Penuh
Makna: Memberdayakan Diri untuk Menghadapi tantangan Zaman.
14. Misteri
Surah Yasin: Mengerti Kekuatan Jantung al-Qur’an dalam Kehidupan.
15. Sunan
Kalijaga: Mistik dan Makrifat.
16. Syekh Siti
Jenar: makrifat Kesunyatan 1.
C.
Latar Belakang Penulisan Tafsir Mutakhir
Latar belakang penulisan tafsir Mutakhir ini ialah karena tiga
surah ini merupakan surah yang sangat dekat dan akrab dengan keseharian masyarakat,
yakni menjadi dzikir dan juga amalan yang biasa dilafalkan pada pagi dan malam
hari serta menjelang tidur. Surah mutakhir ini biasanya dibacakan pada waktu
tahlilan, selamatan dan berbagai kesempatan lainnya. Bahkan, menurut sebuah
hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmizdi, Nasa’i dan Abu Daud, Rasulullah
saw. meminta sahabat Abdullah ibn Habib ra. untuk membaca ketiga surah itu
sebanyak tiga kali pada setiap pagi dan petang untuk melindungi diri dari
segala kejahatan. Menurut Imam Tirmidzi sendiri derajat hadis itu Hasan
Shahih.[4]
Al-Qur’an sebenarnya merupakan petunjuk, dalam perjalanannya yang
lebih dari seribu tahun ini, ketiga surat tersebut hanya digunakan sebagai
wirid dan pelindung belaka. Beliau tidak menyalahkan mereka yang menggunakan
surat terebut sebagai do’a, wirid ataupun pelindung. Namun, beliau menyayangkan
jika surah tersebut hanya diguanakan untuk hal tersebut saja.
Dari pandangan di atas, maka beliau ingin membuka wawasan kepada
masyarakat agar surah tersebut dipahami sesuai perkembangan zaman. Beliau
mengatakan bahwa karya yang beliau tulis bukanlah sebuah “kitab tafsir”. Beliau
hanya ingin menyelami dan menggali makna yang terkandung dalam surah tersebut
agar mendapatkan petunjuk serta mengamalkannya sesuai yang dikehendaki.
Sebagaimana surat Al-Falaq, beliau mengatakan bahwa surat ini tidak
hanya sebagai penyembuh penyakit dan pelindung dari sihir, tapi lebih mendalami
makna yang tersirat dalam surah “Subuh”. Surah Al-Ikhlas sebagai surat
pembersihan iman, dan yang terakhir surat An-Nas untuk menyegarkan jiwa.
D.
Metode Penulisan
Dalam penafsiran ini, Achmad Chodjim mencoba melakukan pendekatan
penafisran al-Qur’an menggunakan metode tafsir bi al-ra’yi. Tafsir bi
al-ra’yi merupakan bentuk penafsiran yang menggunakan nalar dalam upaya
memahami al-Qur’an.[5]
Dalam hal ini ia menggunakan ijtihad untuk memperjelas analisisnya ataupun
argumennya. Bentuk penafsiran seperti ini dinilai dapat mempermudah pemahaman
terhadap kitab suci tersebut.
Beliau tidak hanya mengutip pendapat ulama terdahulu, melainkan
juga menggunakan hasil pemahaman atau pengetahuan beliau sendiri. Penjelasan
beliau juga memuat latar belakang suatu ayat. Berbagai penafsiran dari kitab-kitab
lain seperti kitab tafsir Jalalain, Dalaitun Nubuwwah dan beberapa
pendapat seperti pendapat al-Razi juga dimuat dalam karya beliau yang berkaitan
dengan surah ini. Terkadang beliau
mengkritik penafsiran dari kitab tafsir terebut dan mengemukakan pendapat
beliau, juga memuat syair-syair sebagai pelengkap dalam memahami ayat.
Cerita-cerita tentang suatu kejadian juga dimuat dalam karyanya Achmad Chodjim
ini sehingga yang tampak adalah sebuah penjelasan untuk memahami suatu surah
yang dikaitkan dengan kejadian tertentu, contohnya seperti surah al-Falaq yang
beliau anggap sebagai surah pelindung dari kejahatan-kejahatan yang ada
disekitar kehidupan, salah satunya adalah kejahatan sihir. Surah ini juga
beliau anggap sebagai surah subuh.
Beliau juga mentafsirkannya dengan ayat al-Qur’an, hadis Nabi saw,
pendapat ulama, mengutip pendapat dari kitab tafsir, memuat syair, memasukkan pandangan beliau dan
cerita-cerita atau kejadian yang berkaitan dengan surah ini. Beliau juga
memberikan pandangannya sendiri dalam makna ayat al-Qur’an. Di dalam karyaya
ini, beliau juga memaparkan bagaimana seharusnya pengaplikasian surah ini di
era modern.
E.
Contoh Penafsiran
Surat Al-falaq
Ayat pertama yang berbunyi “Qul a’udzu bi rabb al-falaq”. ayat
ini beliau terjemahkan dengan “saya berlindung kepada Rabb subuh”.[6] Al-Falaq
merupakan kata benda yang berasal dari kata kerja falaqa yang memiliki
arti membelah sesuatu menjadi dua bagian. Falaq berarti belahan, juga mempunyai
arti fajar, dini hari atau subuh. Ayat pertama ini menyatakan bahwa kita harus
berlindung kepada Rabb al-Falaq yang sejatinya adalah Tuhan pemilik
kebenaran.[7]
Surat Al-Ikhlas
Makna al-Ikhlas adalah kemurnian. Murni itu adalah sesuatu yang
masih asli dan tidak tercampur dengan sesuatu yang lainnya. Pada ayat yang
pertama, “Qul huwa Allahu ahad”. Di dalam bahasa apapun, kata “dia”
sudah pasti menunjuk kepada satu pribadi, tidak mungkin yang ditunjuk dengan
kata “dia” ada dua oknum atau lebih. Dan untuk Tuhan, kata “dia” berarti
satu-satunya. Rasulullah menyebut Dia adalah satu-satunya Tuhan, satu-satunya
Allah.[8]
Surat An-Nas
Surat al-Nas, Tuhan disebut sebagai Rabb manusia. Tuhan
menciptakan manusia, menjaga manusia, memelihara manusia. Tuhan adalah pencipta
alam semesta. Dengan demikian, Tuhan adalah pencipta semuanya. Di dalam surah
ini, Dia adalah rabb manusia.[9]
Tuhan dikenal melalui ciptaan-ciptaan-Nya dan tanda-tanda keberadaan-Nya
yang meliputi alam semesta sebagai kebesaran-Nya. Salah satu kebesaran-Nya
adalah manusia (an-Nas). Meskipun ada kata lain untuk manusia yaitu insan
dan basyar, kata an-Nas merupakan sentral bagi kehidupan makhluk
hidup.[10]
PENUTUP
Achmad
Chodjim merupakan seorang mufasir mutakhir, yang berusaha menggali makna yang
terkadung dalam sebuat ayat al-Qur’an. Meskipun beliau tidak menyebutkan bahwa
karya tersebut dalam sebuah “kitab tafsir”. Namun, bisa dikatakan tafsir karena
beliau banyak mengambil riwayat, hadis munasabah, asbabun nuzul,
dan pandangan-pandangan para sahabat maupun para ulama.
Dari ketiga surat tersebut, jelaslah
bahwa beliau ingin manusia yang hidup di zaman modern ini juga memahami ayat
al-Quran sesuai perkembangan zamannya. Misalkan surat al-Falaq dijadikan
sebagai surat pelindung dari sihir. Dalam tulisan beliau mengatakan bahwa pada
zaman modern ini tidak ada lagi bahkan jarang ditemukan orang yang terkena
sihir, seiring berkembangnya zaman dan kecanggihan teknologi, maka surat
tersebut tidak hanya dibaca sebagai pelindung, namun lebih mendalami isi dan
kandungan makna yang tersirat dalam surat tersebut. Begitupun dengan surat
al-ikhlas dan An-nas, tidak hanya dibaca tapi dipahami dan digali lagi makna
yang tersirat.
DAFTAR
PUSTAKA
Afifuddin, M. Apresiasi Spiritual Q.S al-Fatihah: Survei Profil Karya-Karya
Jalaluddin Rakhmat, Anand Krishna, dan Achmad Chodjim. Skripsi S1.
Chodjim, Achmad. Al-Falaq: Sembuh dari Penyakit Batin dengan
Surah Subuh. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2015.
------------------------. Al-Ikhlsas: Bersihkan Iman dengan
Surah Kemurnian (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2015.
-------------------------. An-Nas: Segarkan Jiwa dengan Surah
Manusia. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2015.
Chusna, Hotimatul. Telaah Penerapan Asbabun Nuzul oleh Achmad
Chodjim dalam Surah Al-Ikhlas. Skripsi S1. Fakultas Ushuluddin dan
Filsafat, UIN sunan Ampel, 2016.
Fakultas Ushuluddin dan Filsafat: Universitas Islam Negeri Jakarta,
2004.
Irwan. Analisis Metodologi Tafsir Alfatihah karya Achmad
Chodjim: Aplikasi Metodologi Kajian Tafsir Islah Gusman. Skripsi S1.
Fakultas Ushuluddin, UIN SyarifHidayatullah, Jakarta, 2010.
Shihab,
Quraish. Kaidah Tafsir. Tanggerang:Lentera Hati, 2013
[1]M. Afifuddin, Apresiasi Spiritual QS.
Al-Fatihah: Survey Profil Karya-karya Jalaluddin Rakhmat, Anand Krisna, dan
Achmad Chodjim (Skripsi S1, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Jakarta,
2004), 46.
[2]Irwan, Analisis Metodologi Tafsir al-Fatihah
Karya Achmad Chodjim: Aplikasi Metodologi Kajian Tafsir Islah Gusmiyan
(Skripsi S1, Fakultas Ushuluddin, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2010),37
[3]Irwan, Analisis Metodologi Tafsir al-Fatihah
Karya Achmad Chodjim: Aplikasi Metodologi Kajian Tafsir Islah Gusmiyan, 38.
[4] Achmad
Chodjim, Al-Falaq: Sembuh dari Penyakit Batin dengan Surah Subuh
(Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2015), 13.
[5]Quraish Shihab, Kaidah Tafsir. ( Tanggerang:Lentera Hati, 2013),
368.
[8]Achmad Chodjim,
Al-Ikhlsas: Bersihkan Iman dengan Surah Kemurnian (Jakarta: Serambi Ilmu
Semesta, 2015), 40.
[9]Achmad Chodjim,
An-Nas: Segarkan Jiwa dengan Surah Manusia (Jakarta: Serambi Ilmu
Semesta,2015), 39.
