Blogroll

makalah tafsir tiga surah terakhir (akhmad Khodjim)

PENDAHULUAN
Pada zaman dahulu, orang Islam diajari untuk berbuat dan beramal dalam kehidupan ini berlandaskan Tauhid dan juga diajari untuk berlindung dari berbagai kejahatan,  hanya dengan melafalkan 3 surah ini hingga puluhan bahkan ratusan kali. Mungkin pada zaman dahulu sihir yang ada itu dapat ditangkal dengan mudah oleh daya dari 3 surah ini. Tapi, pada zaman sekarang? Sihir modern sudah tidak dapat ditangkal meski bibir kita ndower karena melafalkan surah ini hingga ribuan kali. Lihatlah bencana yang ditimbulkan oleh sihir modern yang terjadi di Ambon, Poso dan tempat lain. Untuk menangkal sihir semacam ini surah-surah dalam al-Qur’an tidak lagi cukup dilafalkan, tetapi ditelaah dan dikaji maknanya (penafsiran).
Tafsir adalah penjelasan al-Qur’an, yang mana penafsiran tersebut untuk membantu memahami Al-Qur’an. Memahami Al-Qur’an bisa melalui terjemahan, ataupun penafsiran yang dilakukan oleh mufassir. Terjemahan atau penjelasan sendiri tergolong dalam tafsir. Di Indonesia khususnya, tidak semua masyarakat Islam dapat memahami ayat al-Quran secara langsung, perlu adanya terjemahan resmi dan standar, dalam hal ini, telah dilakukan dan distandarkan oleh Departemen Agama. Jauh dari itu, banyak para pemikir Islama di Indonesia, juga menafsirkan ayat-ayat Al-quran, seperti HAMKA, Hasbi ash-Shiddiqi, dll.
Dari zaman dahulu sampai sekarang banyak para mufasir Indonesia yang mencoba untuk menafsirkan al-Qur’an. Salah satunya yaitu Achmad Chojdim yang bisa dikatakan tafsir mutakhir, yang mencoba untuk menafsirkan tiga surat terakhir dalam sistematika mushaf Utsmani. Karya beliau tidak hanya tiga surat tersebut malainkan juga Tafsir Al-fatihah, Membangun Syurga, Rahasia Sepuluh Malam, dll.
Dalam makalah ini, akan dibahas tentang tiga surat terakhir yaitu surat Al-Falaq, Al-Ikhlas dan An-Nas. Beliau menyebutkan bahwa karya tersebut bukanlah sebuah “kitab tafsir”. Beliau menulis karya tersebut untuk menggali dan menyelami makna yang terkandung sebagai petunjuk manusia, yang mana zaman semakin berkembang. Maka, ayat al-Qur’an pun dipahami sesuai dengan perkembangan zamannya.
Tafsir Mutakhir Tiga Surah Terakhir Karya Achmad Chodjim
A.  Biografi Achmad Chodjim
Achmad Chodjim lahir di Surabaya, 27 Februari 1953. Ia dibesarkan dalam lingkungan masyarakat tradisional-Islami yang menyenandungkan kitab-kitab klasik. Ia berwajah sejuk, terbuka dan inklusif. Dalam mempelajari ilmu pengetahuan agama, ia diasuh oleh paman dan sepupu dari pihak ibu. Ketika SMP dan SMA, ia pernah nyantri di pondok pesantren Darul Ulum, Jombang dan pondok modern Darussalam, Gontor. Hal inilah yang membangun semangatnya untuk menggeluti ilmu-ilmu agama. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan formalnya di Sekolah Pertanian Menengah Atas Negeri Malang (1974), Sarjana Pertanian (agronomi) di Institut Pertanian Bogor (1987) dan Magister Manajemen dari Sekolah Tinggi Manajemen Prasetia Mulya, Jakarta 1996.[1]
Ketika di Malang Chodjim menyempatkan waktu untuk belajar ilmu-ilmu agama kepada tokoh agama yangada disana saat itu. K.H. Akhmad Chair, ketua rohani Islam di Korem Angkatan Darat di Malang. Ia belajar tafsir seminggu sekali. Sedangkan untuk hadis, ia belajar kepada Muhammad Bejo, Muballig Nasional Muhammadiyah.
Dari kedua tokoh agama tersebut, ia mendapat pemahaman lebih tentang agama, khususnya tentang tafsir dan hadis. Kedua guru tersebut juga memperkenalkan kepada Chodjim dan teman-teman pengajiannya macam-macam kitab klasik Islam baik yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan bahasa Arab untuk dipelajari. Itu mendorongnya untuk mendalami bahasa Arab sebagai ilmu alat dalam mempelajari kitab klasik Islam, tapi bukan bahasa Arab sebagai percakapan. Dalam bahasa Arab, ia juga belajar nahwu, sharaf, mantiq dan sastra.[2]

B.  Karya Intelektual Achmad Chodjim
Ada beberapa karya intelektual Achmad Chodjim, sebagai berikut:
1.    Tafsir al-Fatihah.
2.    Islam Esoteris: Kemuliaan dan Keindahannya (Jakarta: Gramedia, 2000). Buku ini ditulis bersama Anand Krisna.
3.    Syekh Siti Jenar: Makna Kematian (Jakarta: Serambi, 2002).
4.    Tafsir Surah al-Falaq: Sembuh Penyakit Batin dengan Surah Subuh (Jakarta: Serambi, 2002).
5.    Membangun Syurga: Bagaimana Hidup Damai di Bumi agar Hidup Damai Pula di Akhrat (Jakarta: Serambi, 2004).
6.    Tafsir Surah an-Nas: Segarkan Jiwa dengan Surah Manusia (Jakarta: Serambi, 2005).
7.    Tafsir Surah al-Ikhlas: Bersihkan Iman dengan Surah Kemurnian (Jakarta: Serambi, 2005).
8.    Meaningful Life (Jakarta: Hikmah, 2005).
9.    Rahasia Sepuluh Malam (Jakarta: Serambi, 2007).
10.     Menerapkan Keajaiban Surah Yasin dalam Kehidupan Sehari-hari (Jakarta: Serambi, 2008). [3]
11.     Kekuatan Takwa.
12.     Syekh Siti Jenar: Makrifat dan Makna Kehidupan.
13.     Hidup Penuh Makna: Memberdayakan Diri untuk Menghadapi tantangan Zaman.
14.     Misteri Surah Yasin: Mengerti Kekuatan Jantung al-Qur’an dalam Kehidupan.
15.     Sunan Kalijaga: Mistik dan Makrifat.
16.     Syekh Siti Jenar: makrifat Kesunyatan 1.



C.  Latar Belakang Penulisan Tafsir Mutakhir
Latar belakang penulisan tafsir Mutakhir ini ialah karena tiga surah ini merupakan surah yang sangat dekat dan akrab dengan keseharian masyarakat, yakni menjadi dzikir dan juga amalan yang biasa dilafalkan pada pagi dan malam hari serta menjelang tidur. Surah mutakhir ini biasanya dibacakan pada waktu tahlilan, selamatan dan berbagai kesempatan lainnya. Bahkan, menurut sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmizdi, Nasa’i dan Abu Daud, Rasulullah saw. meminta sahabat Abdullah ibn Habib ra. untuk membaca ketiga surah itu sebanyak tiga kali pada setiap pagi dan petang untuk melindungi diri dari segala kejahatan. Menurut Imam Tirmidzi sendiri derajat hadis itu Hasan Shahih.[4]
Al-Qur’an sebenarnya merupakan petunjuk, dalam perjalanannya yang lebih dari seribu tahun ini, ketiga surat tersebut hanya digunakan sebagai wirid dan pelindung belaka. Beliau tidak menyalahkan mereka yang menggunakan surat terebut sebagai do’a, wirid ataupun pelindung. Namun, beliau menyayangkan jika surah tersebut hanya diguanakan untuk hal tersebut saja.
Dari pandangan di atas, maka beliau ingin membuka wawasan kepada masyarakat agar surah tersebut dipahami sesuai perkembangan zaman. Beliau mengatakan bahwa karya yang beliau tulis bukanlah sebuah “kitab tafsir”. Beliau hanya ingin menyelami dan menggali makna yang terkandung dalam surah tersebut agar mendapatkan petunjuk serta mengamalkannya sesuai yang dikehendaki.
Sebagaimana surat Al-Falaq, beliau mengatakan bahwa surat ini tidak hanya sebagai penyembuh penyakit dan pelindung dari sihir, tapi lebih mendalami makna yang tersirat dalam surah “Subuh”. Surah Al-Ikhlas sebagai surat pembersihan iman, dan yang terakhir surat An-Nas untuk menyegarkan jiwa.




D.  Metode Penulisan
Dalam penafsiran ini, Achmad Chodjim mencoba melakukan pendekatan penafisran al-Qur’an menggunakan metode tafsir bi al-ra’yi. Tafsir bi al-ra’yi merupakan bentuk penafsiran yang menggunakan nalar dalam upaya memahami al-Qur’an.[5] Dalam hal ini ia menggunakan ijtihad untuk memperjelas analisisnya ataupun argumennya. Bentuk penafsiran seperti ini dinilai dapat mempermudah pemahaman terhadap kitab suci tersebut.
Beliau tidak hanya mengutip pendapat ulama terdahulu, melainkan juga menggunakan hasil pemahaman atau pengetahuan beliau sendiri. Penjelasan beliau juga memuat latar belakang suatu ayat. Berbagai penafsiran dari kitab-kitab lain seperti kitab tafsir Jalalain, Dalaitun Nubuwwah dan beberapa pendapat seperti pendapat al-Razi juga dimuat dalam karya beliau yang berkaitan dengan surah  ini. Terkadang beliau mengkritik penafsiran dari kitab tafsir terebut dan mengemukakan pendapat beliau, juga memuat syair-syair sebagai pelengkap dalam memahami ayat. Cerita-cerita tentang suatu kejadian juga dimuat dalam karyanya Achmad Chodjim ini sehingga yang tampak adalah sebuah penjelasan untuk memahami suatu surah yang dikaitkan dengan kejadian tertentu, contohnya seperti surah al-Falaq yang beliau anggap sebagai surah pelindung dari kejahatan-kejahatan yang ada disekitar kehidupan, salah satunya adalah kejahatan sihir. Surah ini juga beliau anggap sebagai surah subuh.
Beliau juga mentafsirkannya dengan ayat al-Qur’an, hadis Nabi saw, pendapat ulama, mengutip pendapat dari kitab tafsir,  memuat syair, memasukkan pandangan beliau dan cerita-cerita atau kejadian yang berkaitan dengan surah ini. Beliau juga memberikan pandangannya sendiri dalam makna ayat al-Qur’an. Di dalam karyaya ini, beliau juga memaparkan bagaimana seharusnya pengaplikasian surah ini di era modern.
E.  Contoh Penafsiran
Surat Al-falaq
Ayat pertama yang berbunyi “Qul a’udzu bi rabb al-falaq”. ayat ini beliau terjemahkan dengan “saya berlindung kepada Rabb subuh”.[6] Al-Falaq merupakan kata benda yang berasal dari kata kerja falaqa yang memiliki arti membelah sesuatu menjadi dua bagian. Falaq berarti belahan, juga mempunyai arti fajar, dini hari atau subuh. Ayat pertama ini menyatakan bahwa kita harus berlindung kepada Rabb al-Falaq yang sejatinya adalah Tuhan pemilik kebenaran.[7]
Surat Al-Ikhlas
Makna al-Ikhlas adalah kemurnian. Murni itu adalah sesuatu yang masih asli dan tidak tercampur dengan sesuatu yang lainnya. Pada ayat yang pertama, “Qul huwa Allahu ahad”. Di dalam bahasa apapun, kata “dia” sudah pasti menunjuk kepada satu pribadi, tidak mungkin yang ditunjuk dengan kata “dia” ada dua oknum atau lebih. Dan untuk Tuhan, kata “dia” berarti satu-satunya. Rasulullah menyebut Dia adalah satu-satunya Tuhan, satu-satunya Allah.[8]
Surat An-Nas
Surat al-Nas, Tuhan disebut sebagai Rabb manusia. Tuhan menciptakan manusia, menjaga manusia, memelihara manusia. Tuhan adalah pencipta alam semesta. Dengan demikian, Tuhan adalah pencipta semuanya. Di dalam surah ini, Dia adalah rabb manusia.[9]
Tuhan dikenal melalui ciptaan-ciptaan-Nya dan tanda-tanda keberadaan-Nya yang meliputi alam semesta sebagai kebesaran-Nya. Salah satu kebesaran-Nya adalah manusia (an-Nas). Meskipun ada kata lain untuk manusia yaitu insan dan basyar, kata an-Nas merupakan sentral bagi kehidupan makhluk hidup.[10]

PENUTUP
Achmad Chodjim merupakan seorang mufasir mutakhir, yang berusaha menggali makna yang terkadung dalam sebuat ayat al-Qur’an. Meskipun beliau tidak menyebutkan bahwa karya tersebut dalam sebuah “kitab tafsir”. Namun, bisa dikatakan tafsir karena beliau banyak mengambil riwayat, hadis munasabah, asbabun nuzul, dan pandangan-pandangan para sahabat maupun para ulama.
            Dari ketiga surat tersebut, jelaslah bahwa beliau ingin manusia yang hidup di zaman modern ini juga memahami ayat al-Quran sesuai perkembangan zamannya. Misalkan surat al-Falaq dijadikan sebagai surat pelindung dari sihir. Dalam tulisan beliau mengatakan bahwa pada zaman modern ini tidak ada lagi bahkan jarang ditemukan orang yang terkena sihir, seiring berkembangnya zaman dan kecanggihan teknologi, maka surat tersebut tidak hanya dibaca sebagai pelindung, namun lebih mendalami isi dan kandungan makna yang tersirat dalam surat tersebut. Begitupun dengan surat al-ikhlas dan An-nas, tidak hanya dibaca tapi dipahami dan digali lagi makna yang tersirat.










DAFTAR PUSTAKA

Afifuddin, M. Apresiasi Spiritual  Q.S al-Fatihah: Survei Profil Karya-Karya Jalaluddin Rakhmat, Anand Krishna, dan Achmad Chodjim. Skripsi S1.

Chodjim, Achmad. Al-Falaq: Sembuh dari Penyakit Batin dengan Surah Subuh. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2015.

------------------------. Al-Ikhlsas: Bersihkan Iman dengan Surah Kemurnian (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2015.

-------------------------. An-Nas: Segarkan Jiwa dengan Surah Manusia. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2015.

Chusna, Hotimatul. Telaah Penerapan Asbabun Nuzul oleh Achmad Chodjim dalam Surah Al-Ikhlas. Skripsi S1. Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN sunan Ampel, 2016.

Fakultas Ushuluddin dan Filsafat: Universitas Islam Negeri Jakarta, 2004.

Irwan. Analisis Metodologi Tafsir Alfatihah karya Achmad Chodjim: Aplikasi Metodologi Kajian Tafsir Islah Gusman. Skripsi S1. Fakultas Ushuluddin, UIN SyarifHidayatullah, Jakarta, 2010.

Shihab, Quraish. Kaidah Tafsir. Tanggerang:Lentera Hati, 2013



[1]M. Afifuddin, Apresiasi Spiritual QS. Al-Fatihah: Survey Profil Karya-karya Jalaluddin Rakhmat, Anand Krisna, dan Achmad Chodjim (Skripsi S1, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Jakarta, 2004), 46.
[2]Irwan, Analisis Metodologi Tafsir al-Fatihah Karya Achmad Chodjim: Aplikasi Metodologi Kajian Tafsir Islah Gusmiyan (Skripsi S1, Fakultas Ushuluddin, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2010),37
[3]Irwan, Analisis Metodologi Tafsir al-Fatihah Karya Achmad Chodjim: Aplikasi Metodologi Kajian Tafsir Islah Gusmiyan, 38.
[4] Achmad Chodjim, Al-Falaq: Sembuh dari Penyakit Batin dengan Surah Subuh (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2015), 13.
[5]Quraish Shihab, Kaidah Tafsir. ( Tanggerang:Lentera Hati, 2013), 368.
[6]Achmad Chodjim, Al-Falaq: Sembuh dari Penyakit Batin dengan Surah Subuh. 3o.
[7]Achmad Chodjim, Al-Falaq: Sembuh dari Penyakit Batin dengan Surah Subuh. 39.
[8]Achmad Chodjim, Al-Ikhlsas: Bersihkan Iman dengan Surah Kemurnian (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2015), 40.
[9]Achmad Chodjim, An-Nas: Segarkan Jiwa dengan Surah Manusia (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta,2015), 39
[10]Achmad Chodjim, An-Nas: Segarkan Jiwa dengan Surah Manusi, 40.
close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==